Bagaimana Cara Berbakti Kepada Kedua Orang Tua Yang Sudah Meninggal?

Terkadang, Allah Ta’ala menguji kita dengan kehilangan orang tua kita yang menjadi sebab lahirnya kita di dunia. Mungkin kita diuji dengan kehilangan salah satu atau justru kedua pintu surga kita. Bisa jadi kita kehilangan mereka yang begitu mencintai dan menyayangi kita di saat kita merasa belum berbakti kepada mereka dengan sempurna. Bisa jadi kita kehilangan mereka dengan sejuta sesal karena selama ini justru mendurhakai mereka. Lantas bagaimana cara kita berbakti kepada mereka ketika mereka telah tiada?

MENDOAKAN KEDUANYA
Abu Usaid Malik bin Rabi’ah as-Saidi radhiyallahu ‘anhu pernah berkisah, “Suatu hari kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika itu datang seorang lelaki dari Bani Salimah. Dia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk kebaktian kepada kedua orang tua yang telah meninggal?’ Nabi menjawab, “Benar, masih ada. Yaitu: [1] Menyalatkan keduanya (menyalatkan jenazahnya atau mendoakannya); [2] Memohon ampunan/istigfar untuk keduanya; [3] Memenuhi janji keduanya; [4] Menyambung silaturahmi yang terjalin karena sebab keberadaan keduanya, dan; [5] Memuliakan teman dekat keduanya.’.” (HR. Ahmad, Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad, Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Ulama hadis bersilang pendapat tentang kevalidan hadis di atas. Akan tetapi, makna kandungan hadis tersebut didukung oleh beberapa dalil yang sahih. Di antaranya diperkuat oleh sabda Nabi, “Apabila seorang manusia meninggal, maka terputuslah amalnya melainkan tiga hal: [1] sedekah jariyah; [2] ilmu yang bermanfaat; dan [3] anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Ketika kita menjadi anak yang saleh, maka kita adalah aset paling berharga yang dimiliki oleh kedua orang tua kita. Doa yang kita lisankan akan menjadi amal jariyah, pahala yang terus mengalir meskipun keduanya telah terbujur di dalam tanah.

Di antara doa yang diajarkan oleh Allah Ta’ala di dalam Alquran adalah,
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Rabbirhamhuma kamaa rabbayaanii shagiiraa.”
“Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka menyayangi aku di kala kecil.” (QS. Al-Isra: 24)

Begitu juga di antara doa yang bisa kita ucapkan adalah memintakan ampunan untuk keduanya kepada Allah, sebagaimana doa yang kita panjatkan saat menyalati jenazah mereka. Allahummaghfir lahu… (dst)

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat seorang lelaki. Dia bertanya, ‘Wahai Tuhanku, dari mana derajat yang tinggi ini?’ Allah berfirman, ‘Dari doa/istigfar anakmu untukmu.’.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad dan Baihaqi)

MENYAMBUNG HUBUNGAN DENGAN KARIB KERABAT & TEMAN DEKATNYA
Suatu hari, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berjumpa dengan seorang arab badui dalam perjalanannya menuju kota Mekah. Kemudian Ibnu Umar mengucapkan salam, mengajaknya untuk naik ke atas keledainya, serta memberikannya sorban yang ia kenakan.

Saat melihat perbuatan Ibnu Umar yang dinilai over dan berlebih-lebihan dalam bersedekah, Ibnu Dinar rahimahullah pun berujar, “Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu. Sesungguhnya orang itu adalah orang badui, yang sebenarnya jika dia diberi sedikit saja maka ia sudah cukup senang.” Ibnu Umar pun menjawab, “Arab badui itu adalah kenalan baik ayahku (Umar bin Khaththab).”

Beliau lantas mengutip sebuah hadis bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda, “Di antara kebaktian kepada kedua orang tua yang paling mulia adalah menyambung hubungan dengan orang yang dicintai ayahnya setelah ayahnya meninggal.” (HR. Muslim)

Lihatlah bagaimana kecemburuan Aisyah terhadap Khadijah karena Nabi masih saja mengingatnya. Nabi masih sering memberikan hadiah kepada sahabat-sahabat Khadijah, sepeninggal Khadijah. Karena itu salah satu bentuk kebaikan kita terhadap orang yang telah meninggal. Begitu pula terhadap orang tua kita yang telah tiada. Sangat indah jika kita bisa menggantikan sosok orang tua kita bagi sahabat-sahabat mereka.

Maka marilah kita menyambung hubungan dekat dengan sahabat orang tua kita. Termasuk mempererat silaturahmi dengan karib kerabat mereka, semisal kakek-nenek kita dan paman-bibi kita. Kita memuliakan mereka semua dengan berbagai bentuk kebaikan, mengunjunginya, memberikannya hadiah, menjenguknya ketika sakit, membantunya saat ia membutuhkannya, dan masih banyak lagi.

BERSEDEKAH & MELUNASI UTANG
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkisah bahwa ada seorang lelaki mendatangi Nabi dan berkata, “Ibuku meninggal mendadak, sementara beliau belum sempat berwasiat. Saya yakin, jika beliau sempat berbicara, beliau akan bersedekah. Apakah beliau akan mendapatkan pahala jika saya bersedekah atas nama beliau?” Nabi pun menjawab, “Iya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika ibu Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia, Sa’ad sedang tidak ada di rumah. Sa’ad pun berkarta, “Wahai Rasulullah, ibuku wafat dan ketika itu aku tidak ada. Apakah beliau mendapatkan pahala jika aku bersedekah harta atras nama bekliau?” Nabi pun menjawab, “Iya.” (HR. Bukhari)

Di antara kebaktian yang bisa berguna untuk orang tua kita yang telah wafat adalah bersedekah atas nama mereka. Termasuk menyedekahkan barang peninggalan mereka seperti pakaian kepada fakir miskin yang memerlukannya, atau menghadiahkannya kepada sahabat dan karib kerabat mereka.

Alangkah baiknya jika yang kita sedekahkan berupa wakaf yang bisa menjadi sedekah jariyah, semisal membangun masjid, pondok pesantren, dan lain sebagainya. Sungguh sebuah kebaktian yang sangat besar.

Di antara bentuk sedekah yang sangat penting adalah melunasi utang mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya tentang jenazah seorang sahabat, “Mungkin saudara kalian ini memiliki utang?” Sahabat menjawab, “Benar, sebesar dua dinar.” Maka Rasulullah pun mundur, tidak jadi menyalatinya. Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu pun berkata, “Wahai Rasulullah, dua dinar itu biar aku yang menanggungnya.” Maka Rasulullah pun bersabda, “Dua dinar itu sekarang menjadi tanggunganmu dan wajib pada hartamu, mayit ini berlepas diri darinya.” Abu Qatadah pun menjawab, “Ya.” Akhirnya Rasulullah pun menyalatinya.

Setelah kejadian itu, setiap kali Rasulullah berjumpa dengan Abu Qatadah, beliau selalu bertanya, “Bagaimana dengan dua dinar itu?” (Maksudnya utang tersebut telah dilunasi?). Sampai akhirnya Abu Qatadah menjawab, “Wahai Rasulullah, dua dinar itu sudah aku lunasi.” Rasulullah pun bersabda, “Sekarang ini barulah kulit mayit itu menjadi dingin.” (HR. Hakim dan Baihaqi)

MENUNAIKAN JANJI & NAZAR
Jika semasa mereka hidup ada janji yang ingin mereka penuhi, maka di antara bentuk kebaktian kita adalah mewujudkannya. Jika mereka pernah menjanjikan akan membelikan buku baru untuk adik bungsu kita, maka di antara bentuk bakti kita yang menggantikan mereka untuk memenuhi janji tersebut.

Begitu pula dengan menunaikan nazar yang mereka ucapkan. Ketika ibu Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu wafat, beliau meminta fatwa kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya ibuku meninggal sedangkan dia memiliki nazar.” Rasulullah pun bersabda, “Tunaikanlah nazar tersebut untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Akhir kata, kita berdoa, semoga Allah mengampuni kedua orang tua kita, menerima segala amal kebaikan keduanya, memasukan keduanya ke dalam surga, serta memberikan kita semua kesabaran, sampai kelak Allah mempertemukan kita kembali dengan indah di surga-Nya. Amin.

Rabbighfirlii wa liwaalidayya…

Penyusun: Roni Nuryusmansyah

Palembang
Senin, 25 Rabiulakhir 1438 H / 23 Januari 2017 M
Hari yang tidak beliau temui lagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *