Arti Sebuah Amanat

Amanat tidak mengenal kasta. Tiap insan dari berbagai kalangan pernah mengembannya. Layaknya angin, begitu mudah kita menemuinya. Akan tetapi begitu sulit kita mendapatkannya mampu terjaga dan tidak terabaikan. Amanat adalah emas yang telah ditutupi karat hitam. Sehingga manusia begitu mudah menyia-nyiakannya. Maka pada pembahasan kali ini, kita mengangkat tema amanat agar kita dapat memahami arti pentingnya sebuah amanat. Sehingga kita bisa menghiasi diri kita dengan kemuliaan akhlak para Nabi ini dan tidak tergolong orang munafik yang melalaikannya.

Syari’at = Amanat
Hakikatnya, amanat itu amatlah tinggi, sehingga langit tak bisa merangkulnya. Ia sangatlah berat, sehingga bumi tak kuasa memikulnya. Ia begitu agung sehingga gunung tak mampu menjunjungnya. Semua itu karena mereka khawatir akan mengabaikannya.

Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi mereka semuanya enggan untuk memikul amanat itu karena mereka khawatir akan mengkhianatinya, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu amat lalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud amanat di dalam ayat ini adalah syari’at Allah Ta’ala yang diemban oleh Nabi Adam ‘alaihissalam dan keturunannya.[1] Itulah amanat yang paling mulia dan paling agung: amanat melaksanakan syari’at Allah Ta’ala dan menyembah-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.

Perintah Allah
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisaa: 58)

Pada ayat ini, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menunaikan amanat-amanat yang terjadi di antara para hamba Allah Ta’ala kepada para pemiliknya. Allah Ta’ala juga menjelaskan betapa pentingnya menunaikan amanat karena Allah Ta’ala mengaitkannya dengan sifat adil yang mana adil itu lebih dekat kepada takwa. Serta Allah Ta’ala di akhir ayat mengancam kita jika kita melalaikan amanat dengan menjelaskan bahwa Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Akhlak Para Nabi

Ia adalah akhlak yang agung. Tidak mengherankan jika Allah Ta’ala menghiasi Nabi-Nya dengan sifat mulia ini. Ia merupakan pilar utama diutusnya para Nabi. Jika Nabi tidak memiliki sifat amanat, maka terjadilah kerusakan di muka bumi dikarenakan syari’at yang telah diamanatkan oleh Allah Ta’ala kepada para Nabi dilalaikan. Oleh karena itu, amanat adalah sifat mutlak yang ada pada diri para Nabi. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam digelari al-Amin (yang terpercaya), bahkan sebelum Beliau diutus menjadi seorang Rasul? Lalu adakah kebahagiaan yang lebih besar daripada diri kita dihiasi oleh akhlaknya para Nabi yang dengannya Allah Ta’ala menurunkan risalah?

Sifat Orang Beriman
Bersikap amanat tidak hanya akhlak para Nabi saja. Namun ia juga sifat mulia yang dimiliki oleh orang-orang beriman dan orang-orang shalih, serta ia adalah perhiasan orang-orang yang bertakwa. Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia ketika menjelaskan sifat orang yang beriman yang artinya, “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minuun: 8).

Maka sungguh beruntung orang beriman dan beramal sholeh. Yang mana Allah Ta’ala janjikan untuk mereka surga yang kekal di akhirat kelak.

Melalaikannya Adalah Sifat Munafik
Sebagaimana menjaga amanat adalah sifat orang yang beriman, maka melalaikannya adalah sifat orang yang munafik. Hal ini berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Empat hal yang jika terdapat pada seseorang maka dia menjadi seorang munafik murni, dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya salah satu sifat dari empat hal tersebut, maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia mengingkari dan jika berseteru dia curang.”[2]

Ketika Amanat Dilalaikan

Dicabutnya amanat dan banyak terjadinya pengkhianatan merupakan tanda terjadinya hari kiamat. Hal ini sesuai dengan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya seorang Arab Badui kapan terjadinya hari kiamat, Beliau bersabda, “Apabila sudah hilang amanat maka tunggulah terjadinya kiamat”. Orang itu (Arab Badui) bertanya, “Bagaimana hilangnya amanat itu?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka akan tunggulah terjadinya kiamat.”[3]

Melalaikan amanat juga merupakan sebab seseorang dijauhkan dari surga. Hal ini berdasarkan hadits Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak menindaklanjutinya dengan baik, kecuali dia tidak akan mencium bau surga.”[4]

Juga disebabkan tidak menjaga amanat, seseorang menjadi salah satu golongan manusia yang paling buruk di sisi Allah Ta’ala. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seseorang suami yang menggauli istrinya dan diapun menggaulinya, kemudian si Suami menyebarkan rahasia si Istri.”[5]

Hal itu disebabkan Suami tidak menjaga amanat si Istri berupa rahasia pribadi yang terjadi di antara keduanya.

Maka tidak ada hal yang lebih baik ketika kita mengemban amanat selain menjaganya dan tidak ada hal yang lebih buruk selain melalaikannya. Karena menjaga amanat adalah perintah Allah Ta’ala, sifat para Nabi, dan ciri orang mukmin. Sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melaksanakannya. Sedangkan melalaikan amanat adalah tanda orang munafik, sebab seseorang menjadi manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah, dan sebab seseorang tidak mencium wanginya surga. Sehingga sudah sepantasnya kita untuk tidak melalaikannya.

Akhir kata, semoga kita dimudahkan oleh Allah Ta’ala untuk dapat meraih kemuliaan akhlak dengan menjaga amanat dan tidak melalaikannya.

 

Ba’da Sholat Jum’at, Ramadhan 1431 H / 13 Agustus 2010 M
Asrama Kampus STDIIS Jember, Jatim

 

Penulis : Roni Nuryusmansyah (Mahasiswa STDI Imam Syafi’i Jember)
Akurator : Tim asatidzah pemuraja’ah buletin dakwah An-Nashihah STDI Imam Syafi’i Jember)
Artikel : kristalilmu.com

 

_______________
[1] Tafsir Ibnu Katsir
[2] HR. Bukhari (1/33), dan Muslim, no. 59
[2] HR. Bukhari, no 57
[3] HR. Bukhari, no. 6618
[4] HR. Muslim, no. 1437
[5] HR. Muslim, no. 2597

Comments

  1. By Euis Huwaidah Khaalidah

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *