Adab Majelis Ilmu

Ikhlas
…..

Bersemangat menghadiri majelis ilmu
Abul Abbas, Tsa’lab, seorang ahli nahwu, pernah bercerita, “Aku tidak pernah kehilangan Ibrahim al-Harbi dalam majelis nahwu selama 50 tahun.”
Apa buah dari semangat seorang Ibrahim al-Harbi? Dunia telah mencatatnya sebagai seorang ulama terkemuka.

Imam Ahmad pernah berujar, “Ilmu itu anugerah yang Allah berikan kepada siapa yang Dia kehendaki di antara makhluk-Nya. Tidak ada seorang pun yang memperoleh ilmu dengan nasab atau garis keturunan. Seandainya demikian maka tentu ahlulbait Nabi-lah yang paling utama memperolehnya.”

Abul Abbas al-Khurkhi berkisah tentang dirinya, “Aku senantiasa menghadiri majelis Abu Hazim Jumat pagi, padahal tidak ada jadwal majelis hari itu. Aku berbuat demikian karena aku ingin menjaga semangatku agar tidak turun dalam menuntut ilmu.” (Al-Hatsts ‘ala Thalab al-Ilm, hal. 78)

Ayahanda Wahb bin Jarir pernah berkata, “Aku duduk di majelis al-Hasan al-Bashri selama tujuh tahun, dan aku tidak pernah terlambat meski hanya sehari.” (Siyar A’lam an-Nubala: 6/362)

Bersegera menghadiri majelis ilmu
Asy-Sya’bi pernah ditanya, “Bagaimana engkau mendapatkan semua ilmu ini?” Beliau menjawab, “Dengan tidak bersandar kepada siapa pun, melanglang buana di berbagai negeri, bersabar seperti sabarnya keledai, dan bersegera seperti bersegeranya burung gagak.” (Ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits: 196)

Mengejar ketertinggalan belajar

Mencatat faedah

Fokus menyimak dan tidak sibuk
Ahmad bin Sinan mengisahkan bahwa di majelis Abdurrahman bin Mahdi tidak ada seorang pun yang berbicara, tidak ada pensil yang diraut, tidak ada yang tersenyum, dan tidak ada yang berdiri. Burung seolah-olah hinggap di atas kepala mereka, atau mereka seperti tengah melaksanakan salat. (Tadzkirah al-Huffazh 1/331)

Menghadiri sebisa mungkin majelis ilmu
Imam Nawawi dikisahkan menghadiri 12 pelajaran atau majelis ilmu dalam sehari.
Ia berkisah, “Aku menulis semua penjelasan dari hal-hal yang masih samar, memperjelas ibarat atau ungkapan yang kurang dipahami, dan mengoreksi bahasa (harakat dst). Allah pun memberkahi waktuku.” (Tadzkirah al-Huffazh 4/1470)

Ibnu Jibrin berujar, “Banyak penuntut ilmu menyesal mengapa mereka tidak menghadiri majelis-majelis masyaikh saat mereka masih hidup di tengah-tengah mereka.”

Tidak berputus asa
Imam Ahmad berkata, “Aku mempelajari pembahasan tentang haid selama sembilan tahun sampai aku paham.” (Thabaqat al-Hanabilah 1/268)

Tidak memotong pembicaraan
Suatu ketika, saat Nabi sedang berkhutbah, seorang Arab Badui bertanya, “Kapan hari kiamat?” Akan tetapi Nabi tidak menghiraukannya dan terus melanjutkan khutbah. Usai berbicara Nabi bertanya, “Mana orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?” (HR. Bukhari)

Beradab ketika bertanya
Imam Malik di suatu majelisnya pernah membicarakan suatu permasalahan lalu membawakan pendapat Zaid bin Tsabit. Ismail bin Bintu as-Sudi bertanya, “Apa pendapat Ali dan Ibnu Mas’ud dalam masalah ini?”
“Dari mana engkau?” tanya Imam Malik. Ismail menjawab, “Dari Kufah.”
“Di mana engkau meninggalkan adab?”
“Aku hanya ingin mengambil faedah.”
“Ali dan Abdullah tentu saja tidak diragukan lagi keutamaan mereka berdua. Akan tetapi penduduk negeri ini mengikuti Zaid bin Tsabit. Jika engkau berdakwah di tengah-tengah kaum dengan menukil ucapan ulama yang tidak mereka kenal maka mereka akan bersikap buruk terhadapmu.” (Siyar A’lam an-Nubala 11/188)

Syabthun, salah seorang ulama Andalus-Spanyol, dari Cordoba, pernah saat ia berada di majelisnya datang selembar kertas atau surat dari salah seorang penguasa. Di dalamnya ia bertanya tentang piringan timbangan atau mizan di hari kiamat, apakah terbuat dari emas atau perak. Lantas Syabthun pun membalasnya dengan membalik kertas tersebut dan menulis di atasnya sebuah hadis: “Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuk dirinya.” (Siyar A’lam an-Nubala 9/312)

Meneladani Akhlak Alim
As-Sam’ani mengisahkan, “Majelis Imam Ahmad dihadiri lima ribu orang dan yang mencatat hanyalah lima ratus orang. Sisanya meneladani bagaimana akhlak dan adab beliau.” (Siyar A’lam an-Nubala 11/316)

*) Disarikan dari kitab Ma’alim fi Thariq Thalab al-Illmi – Abdul Aziz as-Sadhan

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *